Kamis, 14 September 2017

Masa Putih Abu-Abu


Mari kita sejenak menjelajahi waktu, berputar mengintari lautan rindu, memandang indahnya masa putih abu-abu.

Sebuah momentum pencarian jati diri dan pengokohan hati, ditempa oleh putra-putri terbaik negeri ini.

Masa terciptanya persahabatan abadi, keegoisan hati, bahkan kebahagiaan yang jarang aku dapatkan akhir-akhir ini, yang membuat kita mengagungkan kata 'reuni'.

Kata 'Alumni' membuat sesak dada ini, memaksa kita membatasi pertemuan ini

Kini kita tidak lagi saling menemani, apalagi saling memahami, kini kita berpisah, demi memenuhi keegoisan pribadi.

Kini hari-hariku terasa hampa, ditemani nama-nama tanpa jiwa, yang hanya menginginkan kelebihan yang kita punya.

Selasa, 12 September 2017

Catatan Perantau


Timbul pertanyaan yang sering aku lontarkan pada diriku sendiri selama beberapa waktu terakhir, sebuah pertanyaan dimana menunjukan sifat asli seseorang.

Betapa egoisnya diriku, dirimu, bahkan mereka. Memilih pergi jauh ratusan kilometer bahkan melintasi Samudra demi sebuah kualitas.

Pernahkah kita sekali saja mengesampingkan ego yang menuntun kita pada kebutaan hati, demi sebuah kepuasan gengsi.

Semua keegoisan yang tertanam dalam hati ini, harus dibayar mahal dengan kerinduan yang tak terbendung.

Kadang Ibu bertanya "Bagaimana kabarmu ?". Dada sesak menampung rindu, membanjiri pikiran dan kalbu.

Kadang hati menumbangkan ego, memaksa kita menyerah pada keadaan ini, memaksa kita kembali didekapan Ibunda tercinta.

Tapi percayalah Ibuku, keegoisanku semata ini agar engkau bisa tersenyum dikemudian hari, hari ketika seutas tali dipindahkan dari kiri ke kanan.

Hari dimana anakmu berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Duduklah ibuku, biarkan tulang-tulang yang sudah tidak kokoh itu beristirahat, setelah perjuangan tanpa henti hingga dapat mengantarkanku kesini.

Izinkan anakmu membalas sedikit dari apa yang engkau telah berikan padaku, walaupun memang hutangku tak akan terbayar sepenuhnya kepadamu.

- Kenny Rivaldi

Minggu, 10 September 2017

Yogyakarta


Tak pernah terlintas dalam benaku untuk mengunjungi kota tua ini, tak banyak yang aku tahu dari kota ini, nama Yogyakarta atau lebih akrab disapa Jogja sebelumnya hanyalah sebuah nama kota yang sering disebut dalam materi pembelajaran SBMPTN-ku.

Tak ada alasan kuat yang mendorongku untuk mengunjungi salah satu kota bersejarah ini selain karena temanku yang sedang menggeluti perkuliahan di kota pelajar tersebut. Aku sempatkan waktu liburanku yang sangat terbatas untuk mengunjungi Jogja.

Perjalan menuju Jogja terasa sangat sunyi, memandang para petani yang sedang berjuang memenuhi kebutuhanya sembari ditemani lagu Berita Kepada Kawan yang dilantunkan oleh Ebiet, membayangkan sahabatku duduk bersamaku menjelajahi mantan Ibu Kota Indonesia ini.

Sesampainya disalah satu terminal di Jogja, kulihat sebuah terminal yang berbeda dengan terminal biasanya, para pedagang nampak lesu karena kurangnya pengunjung, merekapun nampak enggan berteriak menawarkan makananya seakan pupus semangatnya.

Ruko-ruko kosong menghiasi terminal tersebut, entah apa yang terjadi pada terminal tersebut, namun semuanya nampak sunyi, kadang kudengar curhatan kalbu para pedagang kepada Sang Pencipta, mengharapkan kemurahan dari Yang Kuasa.

Setelah disambut oleh suasana kemurungan, kulanjutkan perjalanan menuju pusat kota, mata ini dimanjakan dengan indahnya bangunan kolonial yang berserak disepanjang jalanan kota, rasa penasaran mulai menggebu dalam dada ingin mengenal dan lebih mencintai kota ini.

Aku putuskan untuk menyentuh salah-satu daya tarik kota ini, Jalan Malioboro, perjalananku dilalui oleh kemacetan yang sangat panjang, namun seperti pepatah, bahwa tidak akan ada pelangi tanpa sedikit hujan, kulihat Malioboro untuk pertama kalinya dan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tak heran orang berdesak-desakan di jalanan untuk bisa melihat keindahan kota bersejarah ini, Malioboro, tidak seperti yang aku lihat di televisi atau di koran-koran, Malioboro adalah sebuah keindahan yang aku tak bisa tuliskan dengan beribu-ribu halaman.

Karena kadang sejuta kata kalah dengan satu aksi nyata. menjelajahi Malioboro bukanlah hal yang mudah namun bukanlah hal yang memberatkan untuk dilakukan, rasa lelah berjalan ratusan meter dikalahkan oleh ribuan keindahan Malioboro.

Dipandu oleh seorang teman yang juga berkempatan menempuh pendidikan dikota ini, aku menjelajahi jalanan itu, dan semakin jauh aku berjalan, semakin aku jatuh cinta pada kota ini, seakan aku enggan beranjak dari suasana tersebut dan ingin selalu hidup didalamnya.

Kulihat ribuan orang dipenuhi dengan ribuan tujuan, kulihat para pedagang yang mengharapkan rezeki dari Tuhan, kulihat para wisatawan yang dimanjakan oleh aneka hiburan.

Sekarang aku mengerti mengapa kuda-kuda pada andong itu selalu tenang berada dalam jalan lurus sepanjang dua kilometer itu, karena tiap malam mereka berkesempatan menikmati indahnya Malioboro.

Apa yang kudapat malam itu, merupakan malam-malam paling berkesan selama beberapa bulan terakhir, aku merasakan hidup kembali setelah memejamkan mata begitu lama.

Jogja itu tidak sempurna, seperti kota lainya dimana mereka mempunyai kekurangan, namun setiap aku melihat satu kekurangan dari Jogja, aku melihat sepuluh kelebihan yang tidak ada dikota lainya.

Jogja itu menjadi saksi bisu, perjuangan agar berdirinya bangsa ini.

Jika sebelumnya aku tidak pernah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, lain halnya ketika aku menyentuh Jogja, tak perlu kenal lebih jauh untuk jatuh cinta pada kota ini.

Keramahan masyarakat Jogja membuatku seperti mempunyai keluarga baru di kota ini.

Dari apa yang aku rasakan, salah satu kesedihanku dari sejuta kebahagiaanku di Jogja adalah harus meninggalkan Jogja itu sendiri.

Dan Jogja selalu mempunyai cara tersendiri untuk menariku kembali mengunjunginya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat merindukanya, dan akupun sudah rindu.

Putaran Abadi


Kulihat putaran kipas angin melaju tanpa henti
Seakan itu kekal abadi
Tak pernah berhenti menemani hari yang sunyi

Anginya menenangkan pikiran dan mensejukan hati
Namun seperti katanya roda kehidupan kita nanti
Kadang bersemi, namun kadang sunyi

Ada kalanya kipas itu mati
Pergi menghilang seakan enggan kembali
Menuju alam yang masih menjadi misteri

- Kenny Rivaldi

Terminal Harapan


Siang itu dikerumunan lautan orang penuh tujuan
Dikelilingi para pencari rezeki Tuhan
Menyajikan jajanan yang tak semua orang rasakan

Teriakan orang-orang penuh harapan
Menserukan arah dan tujuan
Diiringi nada dari musisi jalanan
Yang tak karuan namun penuh harapan

Bisikan doa kepada Sang Pencipta
Pencipta alam dan seutuhnya
Seutuh harapan yang tak pernah pupus
Pupus dalam lautan kerumunan ini

- Kenny Rivaldi

Pangeran Gagah Diatas Kuda



Di kota yang penuh gemerlap cahaya

Dibawah naungan pangeran gagah diatas kuda

Atas kehendak Sang Pencipta

Kutanamkan ribuan benih penuh harapan

Yang tak akan hilang oleh seribu rintangan

Yang tak akan pupus termakan zaman

Sampai menjadi apa yang aku dambakan

Tentu dengan segala izin Tuhan


-Kenny Rivaldi

Jumat, 28 Juli 2017

Jepang dan Rusia Secara Teknis Masih Berperang, Kenapa?


Setelah Perang Dunia 2, banyak negara sekarang sudah berdamai dan saling memperbaiki hubungan mereka satu sama lain.

Mereka seakan melupakan hal yang telah berlalu, dan lebih fokus kepada masa yang akan mendatang, karena mereka percaya dengan kerjasama semuanya akan lebih mudah dan menguntungkan.

Tidak terkecuali negara Jepang dan Rusia yang merupakan rival pada Perang Dunia 2, namun ternyata sampai sekarang Jepang dan Rusia secara teknis masih berperang, kenapa?

Latar belakang

Pada tahun 1932-1939 Rusia yang pada saat itu adalah Soviet Union terlibat perang dengan Jepang memperebutkan batas negara antara Jepang yang saat itu menduduki wilayah Korea dengan Soviet.

Ketengangan Jepang dan Soviet tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1937, Jepang menginvasi China, dan disana Soviet membantu negara China dengan memberikan peralatan perang.

Tercatat pada bulan Oktober 1937 sampai September 1938 Soviet mengirimkan 82 tank, 1,300 Artileri, 54,000 senampan mesin, dan 1,550 truk dan traktor, hal itu menambah persekutuan kedua negara ini semakin memanas.

Jepang kalah dalam Perang Dunia 2

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang mengumumkan menyerah dan menandakan berakhirnya Perang Dunia 2, saat itu disampaikan oleh Kaisar Hirohito.

Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah 2 kota industrinya di bom oleh sekutu, yaitu Hiroshima dan Nagasaki.

Pasca Perang Dunia 2

Pada tahun 1956 hubungan antara Rusia dan Jepang mulai membaik dengan adanya sebuah deklarasi, dimana keadaan diplomatik kedua negara tersebut sudah kembali membaik.

Juga terdapat pertukaran-pertukaran tahanan perang semasa Perang Dunia 2, dalam deklarasi itu Rusia juga mengambil 4 pulau kecil dari Jepang, dan Rusia berjanji akan mengembalikanya setelah ada pernyataan perdamaian secara formal.

Namun, sampai saat ini Jepang dan Rusia belum mengadakan pernyataan damai secara formal, dan 4 pulau tersebut belum dikembalikan kepada Jepang. Hal itu yang membuat Jepang dan Rusia secara teknis masih dalam kondisi peperangan.

Terlepas dari semua itu, kedua negara tersebut berhubungan sangat baik, mereka saling membantu dan bekerjasama dalam banyak hal, seperti dalam masalah ekonomi.


Kamis, 27 Juli 2017

Kenapa Pemerintah Memblokir Telegram?


Seperti yang kita sering temui di pemberitaan media nasional bahwa pemerintah Indonesia memblokir Telegram, sebuah media sosial yang bisa dikatakan mempunyai banyak penggunanya.

Bukan tanpa alasan, pemerintah memblokir Telegram dengan pertimbangan yang matang, pemerintah menganggap bahwa Telegram lebih banyak hal negatif nya daripada manfaat yang diberikan.

Lalu apa yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam pemblokiran media sosial yang sering digunakan di dunia khususnya di Indonesia itu?

Telegram sangat sering digunakan teroris untuk berkomunikasi

Ini yang merupakan menjadi pertimbangan pertama kenapa pemerintah memblokir Telegram. BNPT mengatakan bahwa Telegram adalah media sosial yang sering digunakan oleh para teroris untuk berkomunikasi.

Bukan hanya digunakan oleh para teroris di Indonesia, media sosial ini juga digunakan oleh para teroris di belahan dunia lainya seperti ISIS, dapat dibuktikan seperti serangan di Paris.

Founder dari Telegrampun mengatakan bahwa applikasinya digunakan untuk berkomunikasi dalam serangan tersebut.

Mengapa teroris menyukai telegram?

Bukan karena mereka menyukai tampilan Telegram, mereka sering memakai Telegram dikarenakan alasan keamanan.

 Bahwa pihak yang berwenang tidak dapat melayak pengguna Telegram, data di Telegram benar-benar di enkripsi sehingga sangat tidak mungkin untuk di lacak.

Telegram juga mempunyai fitur penghapusan pesan, yang ketika pesan itu dihapus oleh pengguna, maka tidak dapat dikembalikan lagi, atau bisa dibilang dihapus secara permanen.

Bahkan pada 2013 lalu pihak Telegram memberikan imbalan sebesar $300.000 bagi siapapun yang bisa mencari celah dari media sosial tersebut.

Pihak Telegram sulit diajak kerja sama

Banyak negara-negara di dunia khususnya di Eropa yang meminta data dari Telegram, namun pihak Telegram enggan memberikan data tersebut.

Bahkan Rusia pernah mengancam untuk memblokir Telegram jika perusahaan tersebut tidak memberikan data penggunanya, namun pihak Telegram enggan memberikanya, sehingga Telegram di blokir di negara asalnya tersebut.

Kesimpulan

Mungkin kita sering berpikir pemerintah terlalu posesif dalam masalah sensor dan pemblokiran beberapa situs seperti situs manga, Vimeo, Reddit, dan Netflix.

Namun ini adalah sebuah pengecualian, saya rasa pemerintah sudah melakukan hal yang benar untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.